bagaimana bahagia ketika mati

Beberapa waktu lalu….

Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan seorang pengusaha muslim “kawakan” yang namanya sering dibincangkan sedikit orang, namun aku yakin ia banyak diperbincangkan banyak “penghuni surga”.

Dahulu hutangnya ratusan juta. Namun kini lunas, bahkan beberapa karyawan pilihannya diberangkatkan umroh setiap tahun. Usahanya bermacam-macam dan berjalan sendiri tanpa ada ia didalamnya.

Saudara2nya ia mulyakan.

Asetnya seperti sawah, ruko dan kos-kosan dimana-mana

Ia juga punya yayasan yang menaungi ribuan anak yatim

Namun ia tetap bersahaja.
tidur beralaskan kasur busa tipis dengan satu bantal usang yang ia beli bekas saat ia berada dalam masa susah dulu.

Tiap pagi ia bangun jam tiga untuk tahajud dan ngaji. lalu ia berjalan ke mushola di komplek rumahnya untuk berjamaah….

Karena ia bertutur secara rahasia, bahwa hidup di dunia itu ibarat 90 menit bermain bola di akhirat.

Sedang di akhirat, hidup itu selaaa, jadi tinggal pilih katanya, selamanya di surga atau neraka.

Karena mati katanya, adalah awal dari kehidupan. bukan akhir kehidupan.

Posted in:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *